Mengajarkan Anak-Anak untuk Menyelesaikan Konflik

Dewasa ini, kita sering mendengar di berita tentang konflik atau kekerasan antar pelajar, baik pelajar SMP, SMA, Mahasiswa, maupun pelajar SD. Konflik ini sering kali kita temui di sekolah. sebuah konflik terjadi bisa disebabkan dari berbagai situasi, diantaranya sebagai berikut:

  1. Tidak menerima pendapat orang lain sehingga terjadi perdebatan.
  2. Dua orang siswa ingin menggunakan benda yang sama dan diwaktu yang sama.
  3. Seorang siswa yang memukul siswa lain dengan sengaja.
  4. Tidak dihargai oleh temannya.
  5. Seorang siswa yang mengambil barang siswa yang lain.

Lantas bagaimana cara untuk mengatasi permasalah itu? Salah satu cara yang dijelaskan dalam buku Thomas Lickona adalah mengajarkan anak-anak untuk menyelesaikan konflik. Anak masa Sekolah Dasar masih susah untuk menyelaikan masalahnya sendiri. Terkadang konflik yang terjadi antar anak beralih ke orang tua, karena orang tua tidak mau melihat anaknya disiksa.

 

Langkah-langkah mengajarkan anak-anak untuk menyelesaikan Konflik adalah diantaranya:

 

1. Membuat Kurikulum Konflik

Guru membagikan buku catatan kepada siswa yang berisi tujuh mata pelajaran. Setiap pelajaran terdiri dari latihan menulis yang merupakan batu loncatan untuk kelas diskusi. Dalam satu mata pelajaran siswa skenarion yang berbeda tentang perkelahian. Kemudian siswa disuruh membuat paragraph tentang waktu dimana mereka bisa menghindari perkelahian. Kemudian siswa diberi contoh konflik dan disuruh mengisi tabel yang berisi pertanyaan, Konsekuensi, dan Nilai. Kemudian siswa diminta untuk mencari solusi dari konflik itu.

 

2. Menggunakan Pertemuan Kelas untuk Membahas Konflik

Guru diharapkan membuat sebuah pertemuan khusus di kelas untuk membahas sebuah konflik bersama siswa. Guru meminta siswa untuk bermain peran berdasarkan scenario yang telah disediakan. Setelah siswa bermain peran yang bertemakan konflik, guru memberikan beberapa pertanyaan seperti:

– Apa yang terjadi dalam situasi ini?

– Apa yang dirasa berbeda dari karakter tersebut?

– Bagaiamana cara lain untuk menyelesaikan masalah ini?

– Apakah kita memiliki masalah seperti ini?

– Apa yang akan kamu lakukan jika menghadapi masalah ini?

 

3. Membimbing siswa melalui konflik nyata

Meskipun siswa telah mendapatkan manfaat dari kurikulum konflik, pelatihan keterampilan sosial, diskusi pertemuan kelas, namun banyak yang masih memiliki masalah dalam menerapkan pembelajaran ini ketika emosi sedang tinggi yang biasa terjadi pada konflik nyata. Dalam situasi seperti ini guru selalu memiliki tugas:

– Membantu siswa memahami sudut pandang orang lain.

– Membantu siswa mencari solusi bijak yang membawa kita memahami dari dua sudut pandang.

– Membantu siswa mempraktikkan keterampilan pribadi yang akan membantu mereka menyelesaikan masalah tanpa campur tangan orang dewasa.
sumber :┬áRapidli Afid (Minggu 23 Juli 2017 – 21:27)

Related posts

Leave a Reply